Senin, 05 April 2021

Bu.

 Dulu aku masih kecil sekali ya, Bu. Aku ingat 13 tahun lalu ketika Ayah pergi, aku masih menangis tersedu di bawah lenganmu. Sedang air matamu mengalir membawa pikiranmu melayang jauh disana; apakah kami bisa melewatinya hanya denganmu, bertiga.

.


Aku masih ingat, hari paling hancur seumur hidupku, kurasa. Hari itu, seperti biasa kau memboncengku mengantarkanku sekolah. Kita mengalami kecelakaan di persimpangan tiga menuju sekolah. Kau bergegas mencariku terjatuh dimana lalu berulang kali bertanya "Apa yang terluka, nak?" Sambil memastikan tubuhku baik baik saja. Sedang orang-orang sudah memanggilmu sebab darah segar mengalir dari kakimu yang terkoyak dengan lebarnya. Aku menangis luar biasa. 

.

Orang-orang ingin membawamu kerumah sakit namun kau masih meminta bantuan orang orang untuk mengantarkanku sekolah. 

Aku yang kecil waktu itu, menurut saja. Sepanjang perjalanan kesekolah, Aku menangis sesenggukan tak dapat kutahan bagaimana rasanya. Bagaimana bisa kau memaksaku untuk sekolah, sedang perasaanku hancur melihatmu meminta tolong dengan berlumuran darah.

. 






Tapi


Allah tak pmengambil sesuatu darimu kecuali digantikan dengan yang lebih baik, kan Bu ? 

Terimakasih telah membuatku sekolah.

Semoga engkau panjang umur dan diberikan keberkahan dalam umurmu, senantiasa. 

Allahumma sholli 'alaa sayyidina Muhammad wa 'ala ali sayyidina Muhammad.

Nomor Satu.

Sunyi di hari ini. Seperti hari-hari kemarin. Tak ada patah kata yang kita keluarkan. Tak ada harapan yang kita bentangkan.

Kita menjadi dingin pada diri kita masing-masing. Kita takut pada semesta yang membeku. Ketika berpapasan, atau satu dari kita muncul diantara kerumunan.
Tiba-tiba kita.

Hati kita, menjadi pusat gravitasi satu sama lain.

Mata kita masih menundukkan diri. Tapi hati kita, tak ada yang tahu-bahwa mereka saling mengendalikan diri.

Allah masih nomor satu. Kita lafadzan berulang-ulang.

Allah,

Masih nomor satu. Selalu Nomor Satu.



Sabtu, 06 Maret 2021

Harapan.

 Aku tak tahu siapa yang lebih dahulu datang. 

Jodoh atau kematian. Tapi harapan ini terus tumbuh, berkembang dan mekar.
Untuk Ibuku, aku ingin menjadi besar dengan segala kerendahan yang mengakar.
Meski hingga sekarang aku masih tak tahu apa lebihku, dan apa yang bisa kulakukan utuk menjadi besar. 

Tapi aku masih berharap kelak, dapat menjadi wanita pilihan.
Yang mengemban surga, pada telapak kakinya
Surga yang menuntut ridha, untuk anak anaknya
Tak peduli ia bagaimana.
Tak peduli ia seburuk apa.

Surga itu tetap ada.




Sabtu, 25 Agustus 2018

Diam.

Mereka merasa bahwa mereka tahu segalanya. Mereka merasa bahwa mereka paling mengetahuinya. Takdir kita.

padahal tentang orang lain
kita tak pernah tahu, bagaimana seseorang bertahan ketika ia sendirian. Kita tak tahu berapa banyak air mata yang ia habiskan--untuk sebuah harapan.

Tapi dari hal-hal seperti ini aku bersyukur bahwa bisa jadi Allah, sedang mengajariku untuk tak melakukan hal yang sama kepada orang lain.

Akan lebih baik diam. Atau terlihat bodoh dan tak mengetahui apapun agar tak merasa diriku ini, lebih baik dari yang lain.

Meskipun aku tahu benar apa yang sedang kudengar dan mereka bicarakan.
Aku ingin mengisi perkataanku, hanya dengan kedamaian dan hal-hal menyenangkan sebaik yang bisa aku lakukan.

Karna apa yang kukeluarkan, takkan bisa kutarik ulang.

Selasa, 19 Juni 2018

:)


"Lalu, bagaimana perasaanmu?"

Aku terdiam dan menghela napas dalam - dalam. Berpikir sejenak tentang bagaimana yang kurasakan.

"Kadang - kadang, aku merasa bahwa aku mencintainya lebih daripada dia mencintaiku dan itu membuatku sedikit marah.

Tapi apa yang bisa kulakukan? 

Selama dia ada di sisiku, Aku sudah merasa sangat bahagia."

Teruslah berada disisiku, ya.

Kepada Kamu; yang tertulis sebagai takdirku.




Kolokium, Seminar, Wisuda!


Dari judulnya.. Ya. Sudah terlihat perjalananku masih belum selesai. Masih ada sidang dan pengurusan skl. Tapii..
Alhamdulillah. Untuk pencapaian sejauh ini dalam waktu yang seperti ini, tak pernah kusangka sebelumnya. 

Tak pernah terbesit dalam fikiranku dan
tak tahu dulu bagaimana untuk melakukannya.

Yang kemudian mengalir begitu saja. Dan pada akhirnya selalu,
Rencana Allah jauh lebih baik. Jauh lebih indah dari yang kuduga. :)

Sebelumnya, aku sedikit sedih dengan teman teman yang mengusiliku.
"Dek, kok belum seminar? Kan kolokium pertama.."

Ya, Kolokium Pertama. Kolokium di IPB artinya adalah Seminar Proposal. Pada saat itu, dari seluruh teman-teman statistika angkatanku, aku yang pertama kali melakukannya. Alhamdulillah. Senang sekali hingga dibikinkan apresiasi dari Departemen Sttaistika IPB.







"Loh dek kapan seminar lah kan kolokiumnya yang pertama."
Begitu begitu saja pertanyaannya..
Jadi ntah mengapa teman teman cowo angkatanku hobi sekali mengusiliku. Udah dingetin juga, mau aku semarah apapun tetap saja dibilang ngga bisa marah. Selanjutnya aku yang diceramahi dan diingatkan "eh adek, adek gaboleh marah-marah. Berdosa lho" 
Hingga akhirnya aku yang mudah sekalii dibuat tertawa oleh kelakuan mereka, meskipun kelakuannya itu adalah mengusiliku.. 

Loh kok jadi curhatin mereka ya. Wkwk. Ya pada intinya, walaupun kelihatannya baik - baik saja, aku juga sedih lho ketika disindir kapan seminar karna kolokium pertama. Huhuhu. 

Penelitian ini sudah kumulai sejak praktik lapang. Jadi skripsiku meneruskan proyek yang diberikan oleh direktur di perusahaan tempatku praktik lapang. Perusahaan tersebut bergerak di bidang perunggasan.

Kalau ada yang berkata cepat sekali aku mengerjakannya, sebenarnya tidak seperti itu..

Penelitianku bertujuan untuk menentukan model terbaik dalam peramalan harga broiler dan karkas. Untuk yang tidak tahu apa itu broiler dan karkas bisa di searching di google yaaa.. :p

Sewaktu di kantor, waktuku banyak dihabiskan untuk mencari data, survei turun lapang ke wet market dan modern market, serta wawancara pedagang. Setelah praktik lapang selesai, aku fokus pada pencarian metode terbaik yang dapat digunakan.
Tapi mungkin karena beberapa orang tidak melihat perjalananku dan hanya tahu bahwa aku telah sampai di titik ini, ada yang menganggap bahwa penelitianku tidak ada kendalanya ataupun memandang sebelah mata apa yang sejauh ini kulakukan. :)

Nah untuk kamu yang mengalami beberapa hal serupa sepertiku, tetap bersabar dan berpikir positif, yah. :)

Semoga Allah selalu mengasihi setiap jiwa yang berkata "Ah, kamu mah gampang. Jurusannya gitu doang. Bisa cepet lulus, kan?" yang kemudian tanpa sadar mengecilkan niatmu atau membuatmu tanpa sadar melakukan sesuatu diburu-buru, tanpa dibarengi niat yang ikhlas menuntut ilmu.

Kamu yang paling mengetahui keadaanmu. Mimpimu bukan untuk orang lain. Pun bukan untuk menyusahkan yang lain.
Apakah ketika kamu melakukannya segala sesuatunya dengan sesegera, orang seperti itu yang akan menjadi pertama menunggumu dengan sabar di ujung sana? Tidak. Ia masih akan berkata "Ah kamu mah mentang bisa cepat. Coba saja menjadi aku."

Ya, tidak? 

jadi, tidak ada komentar negatif yang boleh mengecilkan niatmu ya.
Lillahita'ala. :)
Kamu bisa karna Allah Ta'ala. Maka lakukan yang terbaik sedapat yang kamu lakukan. Lakukan segalanya cukup mengharap ridho Allah. Ridho orangtua. Bersyukur bahwa kamu pun, masih memiliki seseorang yang mendukungmu bagaimanapun keadaannya. 









Update foto dari seminar, sampai wisuda 😊













Foto Studio dengan Ibunda





Ini nih sebagian cowo-cowo statistika angkatan 51 IPB yang suka ngusilin, bikin ketawa. Tapi selalu menjaga diriku, walau bagaimanapun berteman, mereka tahu banget aku gasuka disentuh atau tersentuh kaum laki-laki bukan mahrom. Mereka juga nuruut kalau udah aku omelin. Hihi.


Ini lagi, salah satu contohnya. Jadi waktu itu aku disuruh maju kedepan untuk acara apa gitu. Lha terus mereka dari belakang begini coba. Kaya lagi supporteran. Usil banget coba. Gimana ga ketawa akunya didepan.















 





Selasa, 01 Mei 2018

29 April. Hadiah Ulangtahun dari Fauzan.


Hari ini, Fauzan tiba-tiba datang masuk kamar. Ngasih mba ade nya kejutan bunga bikinan sendiri sama tetehnya hihi. Katanya, "Happy birthday Mba Ade"
^^
29 April 1997 - 29 April 2018

Alhamdulillah, 21 tahun umurku.









Umroh guruku.

"Mohon doa nya dah siap dg acesoris dan name tag nya.." - Umi
Beliau adalah Ustadz Abdurahman dan umi.. Guru ngajiku.
Hari ini, Ustadz dan umi pergi ke tanah suci untuk melaksanakan ibadah umroh selama sepuluh hari.
Pertama kali aku melihat umi dan ustadz berfoto seperti itu, sejuk dan manis sekali rasanya. :)
begitu ramai santri-santriyat yang menjadikan foto tersebut sebagai status whatsapp dan mendoakan yang baik baik. ^^
Bagiku. Melihatnya saja dan tersimpan dalam memori, sudah damai rasanya. ^^
Semoga Allah, selalu menghidupkan kecintaanku, santri dan santriyat terhadap ustadz beserta keluarga. Sampai pada keadaan hilang penat tubuh ini dengan hanya melihat senyumnya.
Semoga ustadz-ustadzku, selalu ridho kepadaku.
Sebab beliau-beliaulah, guru pertamaku mendalami agama. Ustadz-ustadzku di Pondok Pesantren Mahasiswa Al Ihya. ^^
Dan di saat orang orang berkata pada umi meminta doa semoga bisa menyusul ustadz dan umi bersama pasangan juga kesana..
Yang aku pikirkan pada umi adalah dede (anak umi dan ustadz yang paling kecil) yang akan ditinggal sementara. ^^
Anak kecil itu. Terkadang sering marah marah sama mba ade nya. tapi suatu waktu pernah, dia berkata;
"Mba ade, thankyou.." ucapnya pelan ketika aku bercerita bahwa aku tak lama lagi di al ihya.
"thankyou kenapa dede?"
"udah baik.." jawabnya malu malu.
"ha apa?" tanyaku pura pura tidak mendengar. Tapi dalam hati, aku menahan tawa karna tidak menyangka dede bisa berkata semanis itu. ^^
Ya walaupun selanjutnya ia teriak teriak kembali dan berpura pura ngomel-ngomel lagi hihi.
"Nitip dede ya mba ade.." kata umi  kepadaku. masih dengan isak tangis kecil, ketika aku menyalami beliau tadi pagi.
Semoga aku bisa membuat dede riang selalu dan umi menjadi tenang selama sepuluh hari disana..
Semoga ustadz dan umi, diberikan kesehatan di tanah suci hingga kembali ke tanah air. Aamiin..

Jumat, 09 Maret 2018

Kepada kamu, takdirku.


Aku mencintaimu. Rasanya kata itu tak cukup bila kukatakan sekali dua kali, nanti. Tentang apa apa yang kau rasakan- begitupula aku-segalanya sama jika bisa kita menakari besarnya.

Aku bertanya-tanya bagaimana kita ingin menjadi lebih baik lagi namun seringkali kita tak tahan pada keadaan diri kita sendiri. Bagaimana caranya kita melawan rindu  yang tak lengah untuk menarik kita berdua. Rindu yang terus menerus berkata pada diri kita; tak apa. Hanya pertemuan singkat sedikit saja, katanya.

Maka aku berada di jalan agar kita tak bertemu dahulu sebab aku mencintaimu.

Aku takut bahwa nanti,
jika hari itu benar terjadi dan kita benar bersatu. lalu memiliki satu yang serupa dengan dirimu,

Ia akan bertanya
bagaimana ibu dan ayahnya saling tahu?
Haruskah kujawab pula-kita beberapa waktu sengaja bertemu diam-diam sementara aku tak ingin di kemudian hari dirinya melakukan hal demikian?

Aku selalu percaya bahwa apa-apa yang kita usahakan hari ini akan berdampak pada apa-apa yang ia lakukan kemudian. Aku mulai berhati-hati pada apa yang aku makan sebab aku takut akan berdampak pada kerasnya hatinya semakin ia beranjak dewasa. Aku berhati-hati pada tempat yang aku kunjungi sebab kelak aku berharap ia, menarik diri dari tempat yang Allah murkai.

Aku belajar mengaji karna nanti, aku ingin dia mengenal Tuhannya sedari dini.

Sebab Aku mencintainya..


Bahkan sebelum aku tahu bahwa apakah Allah mengijinkan, ia ada didalam perutku dan tendangan kaki mungilnya; hanya aku satu-satunya yang merasakan. 

:)

Semoga kita tak kemana-mana. Semoga kita tak saling menyakiti.


Wisuda kakakku.

Hari ini, tanggal 21 Februari adalah wisuda kakakku.
Aku tak menyangka pada akhirnya kita benar-benar melakukannya!
Melanjutkan kuliah dengan keadaan satu orangtua hingga sampai pada waktunya
memakai toga. :)
Perjalanan ku ke jogja dengan kereta sendiri adalah yang pertama kali. Sebelumnya aku menggunakan pesawat atau kereta eksekutif. Tapi semakin tua rasanya, kenyamanan untukku sendiri adalah yang harus aku usahakan, bukan hanya menikmati apa yang sudah terlihat baik saja.
Maka kali ini aku menggunakan kereta ekonomi.
Aku senang berpergian sendirian seperti ini, bertanya-tanya dengan pikiranku dan sesekali berkenalan dengan orang orang baru.
Aku duduk di samping seorang nenek pensiunan guru yang tak hentinya berbicara tentang pengalaman masa lalu. Di depanku, ada keluarga kecil yang begitu hangat padaku. Mereka semua orang jawa. Pun sebelah kanan hingga belakangku adalah orang jawa.
Dan kemudian yang aku pikirkan ketika melihat mereka adalah,
Aku mengagumi kesantunan dan keramahan mereka dalam berbicara. :)
***
Aku sampai di kos kakakku pukul sembilan malam. Hari itu hari selasa. Aku baru tahu di hari itu bahwa jadwal kakakku wisuda adalah pagi Rabu. Maka besok pagi sekali setelah kakakku selesai dengan kebayanya, kami berangkat ke acara wisudanya di Universitas Gajah Mada.
Sesampai disana, kakakku bergabung dengan teman-temannya yang lain sementara aku dan ibu, duduk di kursi tamu.
Hari itu, ibuku menangis di sebelahku karna mengenang kembali apa-apa yang telah keluarga kami lalui hingga sampai di hari ini. Di gedung ini. Orang orang sedang melihat kakakku memakai toga di atas panggung sana.
Aku tahu kau selalu memberikan yang terbaik sepanjang sebelas tahun kesendirianmu. Aku mencintaimu, Ibu. :)
***
Hari kedua aku di jogja. Kami bertiga menghabiskan hari ini di Malioboro. Mencari oleh-oleh dan menemani ibuku yang senang sekali melihat sepatu. Hihi
Lalu hari ketiga, kami menyempatkan ke Candi Borobudur karna besoknya aku sudah harus pulang. Aku baru saja kolokium dan masih banyak hal yang belum aku selesaikan.
Tapi aku bersyukur, empat hari yang kulalui ketika itu rasanya sangat berarti dalam hidupku.
Aku senang melihat senyum ibu. :)
***
Tulisanku cukup sampai disini saja. Aku sudah bertekad untuk sesering mungkin menuliskan pengalaman pengalaman penting dalam hidupku disini. Dan ini, adalah bagian awalnya meski sudah terlambat untuk kuceritakan. Hihi. Jadi kutuliskan sedikit saja..
Dan inilah foto-foto kami disana. :) 


Malioboro 😊




Selasa, 11 Juli 2017

Aku ingin berjuang.

Kepada kamu, Takdirku.

Seseorang yang bisa jadi saat ini sedang berjuang untuk menjagaku 

dengan caramu sendiri, pada suatu hari nanti.

Kau tahu, aku tak pernah mempercayaimu. Yang kulakukan adalah; mempercayakan pada Tuhan-tentangmu-bahwa Dia satu satunya yang akan menjadikanmu baik dan bisa kupercayai.
Hingga suatu hari nanti. Pada hari yang aku semogakan.

Kau janjikan aku pada Tuhan.

Aku ingin berkata padamu di hari itu,

"Kamu tidak perlu mengagumkan untuk bisa kusayangi setiap hari. Kamu cukup bersabar menemani saat aku marah. Dan tetap tinggal walaupun aku membosankan.
Jadilah perhentian yang menyenangkan. Sisanya, biar bagaimana Tuhan."

Semoga kita adalah apa yang aku semogakan. Aku ingin berjuang. Aku ingin kau perjuangankan.

:)

Rabu, 10 Mei 2017

Keajaiban - Tentang Maha Baik-nya, Dia.




Hari ini, saya ingin bercerita tentang betapa Maha Baik-nya Allah pada saya dan mimpi-mimpi saya.
Tentang Madrasah Diniyyah Al ihya cabang Dramaga. 
Saya seringkali bercerita tentang Madrasah Diniyyah (Madin) yang saya pegang dalam beberapa tulisan di blog saya. Tapi kali ini, saya ingin bercerita tentang hal-hal yang rasanya benar-benar diluar kepala saya. 

Satu cerita. Tentang betapa Maha Baiknya Dia.

Madrasah Diniyyah ini saya pegang sejak bulan februari.
Sekitar bulan januari, saya dapet kabar bahwa di masa kepengurusan saya nanti, akan ada pengajian akbar rutin di Al Ihya Pusat yang dilaksanakan setiap dua bulan sekali. Setiap madrasah di Bogor akan berkumpul dan mengikuti pengajian akbar di sana. Dan di jadwal pengajian tersebut, setiap Madrasah diminta untuk membawakan penampilannya ke atas panggung.


Waaah. Bisa bayangkan betapa setiap dua bulan sekali, saya gaboleh kehabisan ide untuk melatih anak-anak membawakan penampilan yang bagaimana dan seperti apa! hihihi.

Bulan februari lalu, adalah penampilan pertama anak-anak saya. Saya mengagendakan mereka, untuk tampil membawa drama Nabi Sulaiman dan Ratu Bilqis. Tak bisa saya lupakan, senyum canggung dan gugupnya mereka hari itu.

                         Kalian bisa, sayang!
Alhamdulillah. Sukses di penampilan pertama.
Untuk penampilan kedua di bulan april, saya-jauh-jauh-hari kembali mencari-cari ide;
akan membawa apa mereka?
Dan kemudian, pilihan saya jatuh pada shalawatan.

Saya ingin nanti didepan, anak-anak membawakan shalawatan. Shalawatan yang sederhana saja sebenernya. Tapi lama-lama, saya jadi kepikiran..

Saya pengeeen banget anak-anak membawakan shalawatan diiringi rebana. Saya tahu dari awal rasanya tidak mungkin,
Dapet rebana dari mana? Hihi

Saya kemudian mencari-cari informasi kepada teman-teman saya di Bogor atau pada orang-orang yang tahu banyak seputar Bogor. 


Pertanyaan saya cuma satu.


"Dimana tempat jual alat-alat rebana, ya?"
Dan kemudian jawabannya bernada sama.
"mau beli satuan? Ya gabisa"
"lah itu kan mahal banget"
"Coba cari di kampung arab deket empang."



Yak. Benar-benar kepercayaan diri tingkat tinggi, Ade. Bener bener tidak tahu diri juga. Hihi. Saya tidak mungkin membelinya dengan uang sendiri, bukan?



Tapi, siapa yang dapat mematahkan segala ketidakmungkinan?
Allah. Lagi-lagi Allah, kan?

:')
Jujur. Saya merinding sekali ketika menulis bagian ini..


Saya. Dengan segala ketidakmampuan saya menangani dunia dan membuatnya melakukan apa saja yang saya minta,


Saya. Dengan segala kerendahan dan kehinaan bahwa saya tak memiliki apa-apa tanpa izin-Nya..

Meminta pada-Nya; Allah.
Cintanya saya dari segala cinta..


Bahwa saya ingiiiin sekali anak-anak membawakan shalawatan diirini rebana di penampilan madin yang kedua. Saya tahu ini tidak mungkin. Tapi saya tetep  minta. Saya ceritakan pada Allah semuanya. Mengalir begutu saja. dalam doa dan sujud saya.
Dan..

Akhirnya. Dengan rencana seindah dan sebaik-baiknya..

Dua bulan kemudian, anak-anak saya benar-benar membawakan rebana untuk mengiringi shalawatan! Allahuma sholli 'alaa sayyidina Muhammad wa 'ala ali sayyudina Muhammad. :')


Loh, bagaiamana bisa?
Ya. Ada saja cara-Nya. Ada saja hal yang tiba-tiba semacam diluar kepala.

Sebulan sebelum Pengajian Akbar Al Ihya Pusat yang kedua, saya dihubungi sebuah Tim Pekan Kreativitas Mahasiswa dari seni religi ipb untuk bekerja sama dengan tim PKM mereka. PKM Pelantara Rebana. Mereka ingin meminta anak-anak  Madrasah Diniyyah Al Ihya Dramaga sebagai bagian dari tim mereka. Yang kemudian, dipinjamkan rebana sekaligus diajarkan!


Ma syaa Allah. 
Padahal saya cuma mintanya sama Allah, anak-anak membawa satu atau dua buah alat rebana saja. Saya yang mengajari sekedarnya, dan kemudian kami shalawatan bersama.


Tapi yang Allah beri..
Hampir semua anak laki-laki kedapatan berlatih dan memegang alat musik rebana. Plus diajarkan langsung oleh ahlinya. :')
Sementara yang perempuan, beramai-ramai mengalunkan shalawatan.





Allah. 
Betapa indahnya rencana Allah.

Fabiayyialaa 'irabbikuma tukadziban?
Maka, Nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?


Yeay. It's the Day!

Sedang menunggu panggilan untuk tampil di depan acara kampus membawakan rebana nusantara. Pertama kalinya, Madin Al ihya Dramaga :)

Bersama kakak-kakak PKM Pelantara Rebana.

Dan saat ini, kami bersama kakak-kakak PKM Pelantara Rebana Sedang bersiap-siap untuk penampilan selanjutnya! Di Festival Anak Sholeh, Gedung Graha Widya Wisuda IPB, 23 Mei 2017. 
Bismillah. Doakan ya ^^

Sabtu, 06 Mei 2017

Aku mencintaimu, anak-anakku.

Ada satu titik dimana saya merasa.
Bahwa saya adalah wanita paling beruntung sedunia. Hanya dengan melihat wajah mereka saja. Sekejap mata. Tapi rasa sayang itu, senang sekali timbul dengan kapasitas yang tak saya duga.
Seperti misalnya, melihat video mereka yang sedang tertawa bersama. Atau ketika yang lain tengah saling menyibukkan diri, ada satu diantaranya yang bertingkah berbeda sendiri.
Video latihan rebana, misalnya. Dika dan iki tengah asyik berlatih. Faiz yang masih baru belajar ikut memperhatikan. Tapi bilal, malah sibuk dengan busa sepatu baru saya yang kemudian ia ambil dan jadikan sisir untuk rambut temannya, Dika. yang tengah sibuk bermain rebana. Wkwkwk.
Bisa saya rasakan. Betapa semangat mereka bagi saya semacam kekuatan tak bersuara. Bagaiamana senyum dan cerita yang mereka bagi pada saya hari ini, membuat saya betah berlama-lama duduk bersisi bahu atau membentuk lingkaran menatap mata mereka,
satu persatu.
Ibuk mencintaimu, 
anak-anakku..
Semoga Allah,
Ajarkan ibuk untuk terus bersyukur.





Sebelumnya, kegiatan mereka latihan rebana sekitar dua jam-an. Lalu teman-teman yang lain pulang. Cuma mereka yang masih ajakin ibuknya main. Awalnya pengen jalan-jalan ke kampus. Tapi lihat cuacanya sudah panas begini. Maka jadilah refreshingnya seperti ini, di majelis saja. Maaain game teruuss. Atau fotoin ibuknya diem-diem terus dizoom gede-gede. Emang usiiiiil :| hihi

Semoga semakin besar, ibuk doakan kalian semakin rajin mengajinya ya, Nak.. :)

Rabu, 03 Mei 2017

Bahwa kamu.


Kepada kamu, takdirku.

Bahwa dirimu. yang membuatku ingin mempercayai kekuatanku sendiri pada akhirnya.

Sebab karena itu kamu, aku belajar menjaga diriku sendiri.

Aku penasaran bagaimana perasaanmu jika saja kau tahu bahwa kau adalah orang pertama yang berhasil membuatku merasa perlu membaya payung ketika keluar dari rumah. Bagaimana sesampai disana, teman-temanku keheranan ketika melihat perempuan bandel sepertiku memakai payung pinjaman yang aku dapatkan dari teman kamar sebelah. 

Tanpa kehujanan seperti biasa.



Terasa sederhana. 

Tapi kau mampu mengubah sebagian kecil dari diriku ketika orang lain perlu bersusah-susah payah.
Tanpa perlu kau pun melakukan apa-apa. Cukup ada saja.

jika saja Allah benar-benar menautkan diriku padamu--pada akhirnya,
Aku ingin kau tahu dihari itu,

bahwa jauh dari hari ini.

Aku telah lebih dahulu membutuhkanmu.

Entah harus berlalu beberapa waktu. Entah harus menunggu berapa lama untuk jalan kita yang kurasa, masih terasa panjang.

Kita, yang tentu saja masih sama-sama belum bisa berterus terang.

Kapankah, saling menemukan ?

Senin, 01 Mei 2017

Menunggu reda.

Dan hari ini, sehabis mengaji sembari menunggu hujan reda. Mereka kembali mengungkapkan hal hal kecil yang selalu bikin saya geli sendiri karena saking polosnya. 😆

"Ibu. Ibu nanti gak pacaran, berarti kalau ada cowok ganteng langsung ibuk tarik tangannya ajakin nikah dong buk?" - Ucap Najwa sambil tertawa terbahak-bahak.
"ih bukan cari yang ganteng. Cari yang baik hatinya" -    sela april malu-malu.

Kemudia salah seorang anakku yang sudah piatu, berceletuk :
"Ibu, ibu. Kata ayahku, kan ibu sering ngaji. Pengen dijadiin istri."  -_____-

yang kemudian disusul ledakan tawa teman-temannya.

Hihi. Bahagia dengan anak-anakku itu,


selalu sederhana.. 😆😆😆

Selasa, 19 Juli 2016

Berlibur ke smansa.



Hari ini karena begitu besar bahagia yang Allah tumbuhkan, maka aku bertekad untuk menuliskannya. Setiap bahagia yang Allah takdirkan. Setiap kesedihan yang Allah ganti. Hingga bila aku khilaf dan lupa nanti, aku ingin tulisan hari ini dapat memperbaiki peraaanku kembali. "Oh, begitu bahagianya hari-hari itu. Kenapa harus bekeluh karna sedih satu kali?" :)

Berlibur ke smansa. Sengaja aku memilih judul ini biar gak kelihatan-kelihatan banget semacam kurang liburan. 
Hari ini kami (aku, icha, indah, yunidz, nurul) berpegian dengan cara tak biasa. Cara masa muda. Naik angkot ke smansa. Hihi.. dan hal pertama yang kami lakukan adalah.. yap! Makan! Sengaja aku dan mereka mengosongkan perut sejak pagi untuk merasakan nikmat kantin nasi ayam dan nasi goreng pakde kembali. 

Suasana hari itu adalah hari MOS anak-anak baru. Waah.. terasa sekali masa mudanya. Masa-masa yang mencuatkan rindu pada hati kami. Tapi berbeda dengan sekarang. Suasana MOS lebih terasa ketika masa kami dulu. Karna MOS saat itu seakan-akan satu sekolah ikut merayakan. Satu sekolah ikutan riuh-meriahnya.

Setelah makan, kami menungu waktu zuhur di mushalla. Lalu  duduk di gazebo dan bercerita apa saja yang terlintas dalam pikiran kami. Jujur saja, aku merasa lebih dekat berkali-kali lagi dengan mereka. Aku senang memiliki teman-teman yang sederhana. Yang bukan berbicara tentang dari apa yang dikenakan, make up dan bagaimana lipstick kekinian. Karna biasanya jika orang lain melakukannya, aku hanya akan diam. Gelisah sendirian karna memang tidak tahu apa-apa. Belum tertarik apa-apa. Rasanya, belum masanya saja. Aku benar-benar bersyukur karna bersama mereka.
Sebelum ini, aku bersama mereka di tiga tahun terakhir hanya ketika berlebaran kerumah guru. Kecuali dengan icha dan uciek. Aku, yunidz, indah, dan nurul; kami tak benar-benar sedekat ini. Namun di tahun ketiga ini berbeda. Setelah letih mencari rumah guru pada hari lebaran ke empat, kami memutuskan menyerah dan pergi kerumahku saja. Di rumahku, hal yang kami lakukan sama pula, bercerita dari waktu zuhur hingga waktu maghrib. Selera humor kami sama. Alhamdulillah mudah saja bagi kami merasa "nyambung". 
Namun, Apa yang paling menarik hati kami hari itu? Apa yang kami ceritakan hingga sepanjang waktu bertahan? Adalah kisah-kisah tak sederhana.  Kaum nabi luth, jin, sampai ruqyah. Hihi.
 lalu shalatnya pun kami lakukan secara berjamaah. Rasanya, tiga waktu shalat ini pula yang mengeratkan hati kami bersama-sama :)

Hari ini setelah letih bercerita di gazebo, kami pindah ke kfc dengan menggunakan angkot lagi. Di kfc, entah bagaimana bisa, kami bercerita tentang proses melahirkan. Dari pra hingga pasca. Dan kami termotivasi untuk memiliki anak kami sendiri hihi. Melahirkan secara normal sementara suami berada disamping-menggenggam tangan. Dan hati terasa jauh lebih tenang.
Tapi kata yunidz ada pula cerita lucu. Sang suami yang tadinya berada di samping untuk melihat proses dan menguatkan, tidak tahan. Pingsan seketika. Kemudian malah sang suami yang digotong dan dilarikan ke UGD. 

Setelah (tak) puas-puas bercerita. Hampir memasuki waktu ashar, kami pulang dengan mengetem angkot lagi. Meski angkot sudah 7000 tarifnya ke tempat kami, dalam angkot ini lah akhir dari cerita liburan kami hari ini. Duduk di angkot. Berhadapan satu sama lain. Bercerita, tertawa. 
Ah, begitu banyak bahagia yang Allah timbulkan hari ini.

Yunidz, indah, dan nurul. Tiga sahabat baru bagiku sejak kami bercengkrama dirumahku hari itu. Pada awalnya aku mengira mereka pendiam banget. Salah besar. Tidak sama sekali. Wkwk. Sementara icha adalah sahabatku sejak kelas 8 SMP, sahabat pertamaku dan terbaikku. Sahabat yang turut menyaksikan perjalanan hidupku selama tujuh tahun terakhir. Sahabat yang tahu bagaimana  baik buruk diriku dan masih mau menerimanya. Sahabat yang membawaku pada sahabat-sahabat yang lain. Steven, aziz, indah, nurul dan yunidz.
 Semoga mereka selalu sehat dan baik-baik saja. 

Yah paling tidak, ketika diamanahkan sebagai delegasi untuk munas JRMN 2017 In syaa Allah di Malang nanti, sudah ada sahabat di Malang dan Surabaya yang paling kuinginykan temui. Aku cari.. :')

Terimakasih untuk hari ini. Terimakasih  masih mau Ade bersamai. Semoga Ade cukup pantas dan cukup baik untuk menjadi sahabat kalian. Hihi.

Dan semoga persahabatan ini karena iman. 

Allahumma ya Allah. Selamatkan hamba dari sahabat yang bila ia melihat kebaikanku ia sembunyikan, tetapi bila melihat keburukanku, ia sebarkan.

Allahumma ya Allah. Ajarkan  aku untuk bersyukur.. 








Minggu, 17 Juli 2016

Jalan cinta ini.


Sepuluh hari terakhir sebelum ayahku pergi, ia masih berada di sudut kamar rumah sakit. Ibuku bercerita. Orang-orang menaruh harapan padanya agar ia bertahan. 

Tapi hari itu. Dia terduduk di sudut lantai kamar dengan tangan memeluk kedua kakinya.

Putus asa.

Seakan-akan ia ingin menunjukkan pada dunia. Bahwa ini sakitnya. Ini rasa sakitnya. Begini yang ia rasakan; sakit yang tak tertahankan. Jangan berharap ia akan tinggal lebih lama lagi.

"Sudahlah. Aku tidak kuat lagi.  Lebih baik aku mati di dekat anak-anakku!" tiba-tiba ia, ayah- yang kami tahu-sudah sulit bicara, memecah keheningan dan melantangkan harapannya sendiri. 

Hari itu; ayah yang sederhana ini. Tak perlu lautan manusia menahannya untuk tetap berada di sini, rumah sakit terbaik negri Jiran dengan segala fasilitas dan kemungkinan hidup yang mereka katakan.

Ia bertahan karna satu harapan, 

"Aku ingin pulang."
Untuk dua permata yang aku perjuangkan dibawah petir dan terik hari. 

"Aku ingin pulang."


Kemudian dengan tubuh tinggal berbalut tulang, ayah pulang. Ayah sudah Tak mampu berjalan sendiri. Tapi ia tersenyum di depan pintu rumah kami. Kami memeluknya dan ibu menahan badannya. Ayah mudah jatuh, kata ibu. 

Begitulah cintanya. Cinta yang mematahkan harapan orang-orang namun tetap tumbuh untuk harapannya sendiri.
Sekeras itu ia bekerja. Cintanya.

Jika Aku diberikan kesempatan untuk menentukan sendiri jalan hidupku,

Aku tetap memilih jalan ini. Ayah pergi dan kami tinggal bersama ibu yang setangguh makna kata ayah, juga selembut makna kata ibu.

Meski sudah sembilan tahun dan air mataku masih turun,

Aku tetap melakukannya. Air mata ini hanya perlu turun. Rindu ini hanya perlu kutahan.

Yang penting ayah tak sakit lagi..


Wah.. dan ternyata cinta ini begini.. 

Begini Allah sederhanakan cinta ini. 

Saat kau benar-benar menginginkan surga untuknya, sama seperti kamu menginginkan surga itu untuk dirimu.

Dan kemudian tanpa sadar aku terus saja terbiasa memperbaiki perasaanku dengan cara seperti ini.

Masih bagiku. Yang paling sulit untukku bertahan adalah tetap tenang ketika aku tahu bahwa dirinya merasa kesulitan, putus harapan. 

Sebab aku tak mampu dengan hanya mendengar dan melihat dari ujung sana. Aku ingin berkata bahwa aku akan disini dan kita akan bersama-sama. 

Maka untukmu,
tiap-tiap diri yang aku sebutkan hanya pada-Nya, satu per satu;

"Aku selalu berdoa bahwa kau baik-baik saja. Sakit katakan saja, kau sakit. Katakan saja bila kau merasa sulit. Aku akan mendengarkan. Aku hanya akan berbicara bila kau mengizinkan. 

Tapi tolong, jangan pernah berputus asa. Tolong. Jangan pernah sedih sendirian. 

Masih ada yang mencintaimu tanpa perlu kau melakukan apa-apa. 

Cukup kau ada. Allah jadikan kau sebesar itu. Dirimu.

Yakinlah. Akan ada yang mencintaimu dengan jalan seperti ini,

 meski jalan itu hanya datang dari arahku.."


Minggu, 05 Juni 2016

Ramadhan Al-Ihya.

Hari ini, di tempat ini,
Aku masih tidak menyangka akan sampai di sini..

Jika melihat diriku beberapa tahun belakangan, sekitar lima tahun lalu. Bukan niatan, bahkan sekedar memikirkan agama saja masih bicara nanti. Memakai kerudung tak pernah mematok kapan pasti. Menertawakan orang lain tanpa sadar keburukan diri.

Inginnya tertawa saja, bercanda, dan tak tahu bagaimana caranya malu. Sudah terbiasa mempermalukan diri.

Aku pernah maju kedepan panggung besar karna mendapat predikat siswi terheboh ketika perpisahan tempat lesku. Bukan sebagai finalis tapi akulah pemenangnya.
Maka bayangkan saja, bagaimjana rasanya.

Bicaraku adalah pekikan paling keras. Dan tawaku ikut menyelaraskan diri.
Maka hari itu aku berdiri di atas panggung besar, di hadapan teman-temanku. Aku maju sebagai siswi terheboh se-Dssc Salman Tanjungpinang.

Aku malu jika aku mengingatnya kembali.
Tapi untukku saat itu, aku merasa senang. Aku suka  ekspresi  tawa orang lain yang timbul karenaku. Aku suka senyum yang tersimpul ketika pintu kelas terbuka sebab ada aku yang datang dengan pekik cerianya. 

Saat itu, aku masih ingat dua predikat lain yang maju bersamaku adalah siswi terfavorit dan siswi terbaik. Tentu begitu bangga temanku menerimanya. Hanya Aku disini, yang tak mendapatkan apa yang diinginkan orang kebanyakan. 

Tapi aku masih merasa senang.

Ketika beratus pasang mata melihat kearahku, Aku merasa bahwa nanti, aku akan dirindukan.
Aku adalah gadis yang selalu ingin dikenang. Aku selalu ingin menimbulkan kesan tersendiri di hati orang-orang.

Tapi aku tak sadar bahwa tawa dan pekik itu sudah berlebihan dan tak terkendali. Yang sebakdanya mampu membuat matinya hati.

Tapi hari ini, berbeda keadaanya.
Aku diamanahi menjadi koordinator akhwat statistika angkatanku. Aku tahu aku tak pantas namun tak ada alasan pula untukku selain ketidakpantasan itu..

Sebab Aku tak sebaik apa yang orang lain katakan. Allah, menutupi aib-aibku yang berserakan. Allah Maha Baik dan Aku yang seringkali tak sadar diri, 

Akan dosa-dosa yang sudah berbuih.  buihnya tak dapat kutahan hingga jatuh satu persatu tanpa kendali, tak dapat kutarik kembali.

Tapi jalan ini, jalan yang kuusahakan ini, adalah jalan terbaik yang sedapat mungkin aku lakukan.

 Aku tak ingin ayah dan ibu merasakan panasnya api yang enam puluh sembilan kali lebih panas dari api di bumi sebab sikap dan perbuatan anaknya dahulu.

Di jalan ini. Di tempat ini.
Pondok Pesantren Al-Ihya adalah keluarga baruku dalam menjemput Ramadhan. Alhamdulillah, seminggu sebelum batas akhir kos lamaku, aku dihubungi lagi sebab ada yang kosong satu. Maha Besar Allah..

Ramadhan pertama Al-Ihya. Kebanyakan para santri (laki-laki) dan santriyat (perempuan) disini, sudah pernah mondok sebelumnya. Aku begitu kecil disini. Tilawahku tak sebaik santri dan santriyat lainnya.

Tapi setidaknya perasaan ini lebih baik. 

Aku merenungi ketika jalan hijrahku yang bergerak sendiri, dulu. Aku mengaji hari ini, dan besok? aku bisa saja tidak mengaji. Maka aku bertanya-tanya sendiri. Apa perbedannya hijrah itu, diriku?

Tapi disini bersama-sama. Aku diingatkan ketika lupa diri, ketika perihal dunia tak kunjung menemukan akhirnya. Mati satu tumbuh lagi. Mati lagi tumbuh lagi. Maka disini tempat kami membatasi diri. Berbagi hati dan melihat betapa kecilnya diri agar ujub tak tumbuh dan berkembang hingga akarnya tertangguhkan.

Sahur disini beda rasa. Bisa kenyang dengan makan berbagi. Tarawih disini pun beda rasa. Tanpa melihat televisi, hanya tau kabar dari ustadz sebelum shalat isya.
"Kita langsung tarawih, ya.."
Allah.

Alhamdulillah.
Ahlan wa sahlan, ya ramadhan.
Alhamdulillah ala ni'matil islam wal iman.
Allah. Allah.


Ini gambar dari grup JRMN hehe..

Sabtu, 28 Mei 2016

Walimatul 'Ursy

Ada beberapa temen-temen yang ngga datang karna ngga kenal tapi pada tau kabarnya,  dan ada juga yang kenal tapi ngga bisa datang. Jadi, Aku mau ceritain disini suasana resepsi pernikahan abil.. hihi
Dan inilah harinya. 

Untuk pertama kalinya, aku datang ke pernikahan temen sendiri. Kalau ditanya rasanya, rasanya ya semacam ga menyangka, sudah sebesar ini.

Singkat cerita tentang aku dan abil. Aku dan abil sama-sama Q0.8 TPB IPB , kami lebih dekat ketika aku memutuskan untuk masuk di rohis Q.08(BUROQ). Aku lebih mengenalnya lagi ketika kami sekelompok asistensi PAI di semester dua, yang isinya hanya berlima. Dan yang paling penting untukku, abil adalah orang yang menyarankanku untuk memakai jilbab double atau tidak menerawang di awal-awal hijrahku ketika aku bercerita tentang kondisiku yang mulai tidak nyaman lagi memakai jilbab lempar kiri  lempar kanan..

Maka hari ini, Aku berusaha dari jauh-jauh hari untuk mengosongkan agenda dan hadir di hari bahagianya. Padahal  hari ini aku belum selesai bersih-bersih untuk pindahan besok ke Al-Ihya..^^

Hari ini aku datang bersama teman-teman Q0.8 ku, teman-teman kelasku setahun yang lalu. Kami saling menunggu, dan akhirnya carter angkot. Jadi ketika teman-temanku sudah pada cantik dan rapi pergi kondangan, angkot tetap transportasi tanpa saingan disaat go-car tidak kunjung kami dapatkan.

Di angkot, kami bercerita tentang perasaan kami masing-masing. Ada yang sampai bermimpi tentang abil, ada yang masih tidak menyangka, dan masih sama-sama penasaran bagaimana kisah proses ta'aruf abil dan suaminya (ceritanya sudah sah pagi tadi^^). Cerita-cerita kami masih ada yang berbeda versi, mungkin karna penyampaian yang dari mulut ke mulut. Jadi di angkot, kami menyatukan versi-versi cerita ta'aruf abil ini. Intinya sama, cuma pembedanya adalah bumbu-bumbu penyampainya.

Tidak bisa aku sebutkan disini bagaimana, tapi ma syaa Allah, memang manis ceritanya :)

Setelah dua kali naik angkot+satu mobil, alhamdulillah kami sampai di rumah abil.
Kemudian ada teman yang memanggilku dari belakang.
"Ade, hati-hati ketuker sama pengantinya.."
Nahloh....
Dan ternyata, itu suara Zahra. Jadi, ada yang belum kuceritakan. Zahra  bilang aku mirip sama Abil. Ga cuma zahra, beberapa teman-teman lain yang mengenali aku dan abil juga seperti itu. Sampai pernah, ketika aku hendak mengambil wudhu di mushalla mipa kalau tidak salah, lalu tiba-tiba ada yang menegurku.

"Eh, abil..". Iya, salah orang xD

Karna inilah, timbul pertanyaan dari teman-teman.
"Adenya kapan nyusul?"
"..."

Tapi sebenarnya pertanyaan ini timbul dimana-mana hari ini. Tidak cuma untuk yang datang sendiri. Tapi juga untuk yang datang berdua. Biasanya isi percakapannya begini:
"Kamu, kapan nyusul?"
"Kamu dulu, deh.." jawabnya kepada si penanya dengan muka malu-malu. Kemudian si penanya ikut malu-malu. Dan bermalu-malulah mereka berdua-_-

Kembali lagi ke walimahan abil. Disana, ada Teman-teman q08 yang sudah sampai duluan dan selesai makan. Kami yang baru datang pun langsung ikut bersalaman saja dengan pengantin bersama-sama. Waaaah senengg.. aku sampai kebingungan mau memeluk abil, menyalami saja atau bagaimana. Soalnya kasihan, pengantinnya sudah cantik ma syaa Allah. Takut ada yang rusak kalau kupegang ^^

Suasana pernikahan abil, aku suka. Bagus, masih sederhana, tidak terlalu mewah dan tidak kosong juga. Tapi karna para undangan yang datang pada umumnya adalah teman-teman abil sendiri, mahasiswa, maka nikahan abil semacam acara dialog bersama dekan yang dapet gratis makan. Hihi

Tidak kurang juga kesan hari bahagia berfoto-foto dimana-mana. Tidak kurang juga lagu-lagu bernuansa islami tentang jodoh dunia akhirat yang sukses bikin banyak akhwat baper.

Wawaaah.. Sabar. in syaa Allah kita akan menyusul abil  juga di waktu yang baik menurut-Nya, ukh. Akan ada cerita manis tersendiri, untuk kita, yang juga Allah cipta. Allah, Maha Luas Karya-Nya :)

Sekitar sejaman kami berada disana. Foto bareng Q08, bikin video ucapan untuk abil, dan hal-hal lainnya. Sudah semacam reuni. Sebenarnya kami yang akhwat-akhwat juga sekalian menunggu tamu undangannya agak sepi supaya bisa foto sama abil saja lagi^^
Alhamdulillah. Kami pulang sama-sama membawa perasaan bahagia.

Baper? Baper boleh, kok. Bukan 'Bawa Perasaan', yaa. Tapi 'Bawa Perubahan'. Yuk, sama-sama memperbaiki diri dengan niat karena Allah. Semoga kita pantas untuk dipantaskan. Bisa jadi, karena kita yang memang belum pantas untuk ditemukan :)

"Dan, di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, diciptakan untukmu pasangan hidup dari jenismu sendiri supaya kamu mendapat ketenangan hati dan dijadikan-Nya kasih sayang di antara kamu. Sesungguhnya yang demikian menjadi tanda-tanda kebesaran-Nya bagi orang-orang yang berpikir,” (Q.S. Ar-Ruum: 21).

Semoga Allah memberkahimu di waktu bahagia dan memberkahimu di waktu susah, serta semoga Allah mempersatukan kalian berdua dalam kebaikan, Abil :)


Foto bersama pengantin subhanallah  ^^


"Selamat menempuh hidup baru, Abiiil.. Allahummaasholli 'alaa sayyidina Muhammad wa 'alaa ali sayyidina Muhammad"

Minggu, 22 Mei 2016

Harapan terakhir.

Ada dua lelaki yang memiliki waktu terbaik dalam hidupku. Dua lelaki yang  kuberikan tempat terbaik di dalam hati..

Lelaki pertama, yang sering kukisahkan tentangnya. Ayahku.

Lelaki kedua adalah lelaki yang kukisahkan untuk pertama kali. Ketika aku rindu padanya, rindu itu kusimpan dalam-dalam. Tak pernah kutuliskan..

Ia sudah menjadi sahabat baikku. lelaki kedua. Lelaki rendah hati yang selalu bersabar atasku.
Aku suka memeluknya tiba-tiba. Aku senang menjadi makmum shalatnya. Kalimatnya, selalu saja membuat perasaanku lebih baik. Ketika ayah sudah tidak disini, Ia pernah berkata akan datang sesering mungkin. Ia berkata bahwa aku adalah kesayangannya.

Sore itu, di kursi biru ruang keluarga, aku duduk bersamanya.
Lelaki itu mengatakan harapannya. Dia ingin berada disana, ketika aku berusia 20 tahun. Dia berandai-andai berada di pernikahanku yang ditargetkannya saat usiaku 20 tahun. Dia terus bercerita dengan senyum yang nyata, sedang aku  hanyut dalam perasaanya. Aku sendiri belum pernah membayangkan urusan  nikah-menikah saat itu. Umurku 12 tahun. Yang kurasakan, Aku takut melahirkan. Aku takut menikah dengan abang-abang.. hihi
Tapi karna harapan itu datang darinya, aku membayangkan bagaimana perasaanku.
Aku memikirkannya.
Tapi memikirkannya malah membuatku bahagia.
tak apa-apa bila aku menikah nanti, ayah tak ada.

Sampai kemudian aku tahu bahwa itu adalah harapan terakhirnya. Begitulah caranya pergi keesokan hari.
Tak ada pertanda. Ia hanya mengatakan harapannya kemarin. Tinggalah aku dan bekas harapannya yang belum lagi kering.
Sesak. Tapi yang bisa kulakukan hanya menangis. Menangis seakan hanya tangisanku yang dapat membuatnya kembali.  Dia menghembuskan nafas terakhirnya di atas kapal. Ia pergi ketika sedang bermimpi. Malam itu dikapal kata orang, dingin sekali.   Hatiku menjerit membayangkan orang tua itu, dia pasti kesakitan sekali.

Kakekku.

Sudah sembilan belas tahun umurku, cucunya ini. Meski terkadang sulit bagiku  membiasakan diri,
tak apa-apa bila aku menikah nanti, ayah tak ada. Tak apa-apa bila aku menikah nanti, kakek juga tak ada.
Kelak, Aku ingin menemui mereka dalam keadaan sebaik-baik cucu, sebaik-baik anak.. ^^