Sabtu, 28 Mei 2016

Walimatul 'Ursy

Ada beberapa temen-temen yang ngga datang karna ngga kenal tapi pada tau kabarnya,  dan ada juga yang kenal tapi ngga bisa datang. Jadi, Aku mau ceritain disini suasana resepsi pernikahan abil.. hihi
Dan inilah harinya. 

Untuk pertama kalinya, aku datang ke pernikahan temen sendiri. Kalau ditanya rasanya, rasanya ya semacam ga menyangka, sudah sebesar ini.

Singkat cerita tentang aku dan abil. Aku dan abil sama-sama Q0.8 TPB IPB , kami lebih dekat ketika aku memutuskan untuk masuk di rohis Q.08(BUROQ). Aku lebih mengenalnya lagi ketika kami sekelompok asistensi PAI di semester dua, yang isinya hanya berlima. Dan yang paling penting untukku, abil adalah orang yang menyarankanku untuk memakai jilbab double atau tidak menerawang di awal-awal hijrahku ketika aku bercerita tentang kondisiku yang mulai tidak nyaman lagi memakai jilbab lempar kiri  lempar kanan..

Maka hari ini, Aku berusaha dari jauh-jauh hari untuk mengosongkan agenda dan hadir di hari bahagianya. Padahal  hari ini aku belum selesai bersih-bersih untuk pindahan besok ke Al-Ihya..^^

Hari ini aku datang bersama teman-teman Q0.8 ku, teman-teman kelasku setahun yang lalu. Kami saling menunggu, dan akhirnya carter angkot. Jadi ketika teman-temanku sudah pada cantik dan rapi pergi kondangan, angkot tetap transportasi tanpa saingan disaat go-car tidak kunjung kami dapatkan.

Di angkot, kami bercerita tentang perasaan kami masing-masing. Ada yang sampai bermimpi tentang abil, ada yang masih tidak menyangka, dan masih sama-sama penasaran bagaimana kisah proses ta'aruf abil dan suaminya (ceritanya sudah sah pagi tadi^^). Cerita-cerita kami masih ada yang berbeda versi, mungkin karna penyampaian yang dari mulut ke mulut. Jadi di angkot, kami menyatukan versi-versi cerita ta'aruf abil ini. Intinya sama, cuma pembedanya adalah bumbu-bumbu penyampainya.

Tidak bisa aku sebutkan disini bagaimana, tapi ma syaa Allah, memang manis ceritanya :)

Setelah dua kali naik angkot+satu mobil, alhamdulillah kami sampai di rumah abil.
Kemudian ada teman yang memanggilku dari belakang.
"Ade, hati-hati ketuker sama pengantinya.."
Nahloh....
Dan ternyata, itu suara Zahra. Jadi, ada yang belum kuceritakan. Zahra  bilang aku mirip sama Abil. Ga cuma zahra, beberapa teman-teman lain yang mengenali aku dan abil juga seperti itu. Sampai pernah, ketika aku hendak mengambil wudhu di mushalla mipa kalau tidak salah, lalu tiba-tiba ada yang menegurku.

"Eh, abil..". Iya, salah orang xD

Karna inilah, timbul pertanyaan dari teman-teman.
"Adenya kapan nyusul?"
"..."

Tapi sebenarnya pertanyaan ini timbul dimana-mana hari ini. Tidak cuma untuk yang datang sendiri. Tapi juga untuk yang datang berdua. Biasanya isi percakapannya begini:
"Kamu, kapan nyusul?"
"Kamu dulu, deh.." jawabnya kepada si penanya dengan muka malu-malu. Kemudian si penanya ikut malu-malu. Dan bermalu-malulah mereka berdua-_-

Kembali lagi ke walimahan abil. Disana, ada Teman-teman q08 yang sudah sampai duluan dan selesai makan. Kami yang baru datang pun langsung ikut bersalaman saja dengan pengantin bersama-sama. Waaaah senengg.. aku sampai kebingungan mau memeluk abil, menyalami saja atau bagaimana. Soalnya kasihan, pengantinnya sudah cantik ma syaa Allah. Takut ada yang rusak kalau kupegang ^^

Suasana pernikahan abil, aku suka. Bagus, masih sederhana, tidak terlalu mewah dan tidak kosong juga. Tapi karna para undangan yang datang pada umumnya adalah teman-teman abil sendiri, mahasiswa, maka nikahan abil semacam acara dialog bersama dekan yang dapet gratis makan. Hihi

Tidak kurang juga kesan hari bahagia berfoto-foto dimana-mana. Tidak kurang juga lagu-lagu bernuansa islami tentang jodoh dunia akhirat yang sukses bikin banyak akhwat baper.

Wawaaah.. Sabar. in syaa Allah kita akan menyusul abil  juga di waktu yang baik menurut-Nya, ukh. Akan ada cerita manis tersendiri, untuk kita, yang juga Allah cipta. Allah, Maha Luas Karya-Nya :)

Sekitar sejaman kami berada disana. Foto bareng Q08, bikin video ucapan untuk abil, dan hal-hal lainnya. Sudah semacam reuni. Sebenarnya kami yang akhwat-akhwat juga sekalian menunggu tamu undangannya agak sepi supaya bisa foto sama abil saja lagi^^
Alhamdulillah. Kami pulang sama-sama membawa perasaan bahagia.

Baper? Baper boleh, kok. Bukan 'Bawa Perasaan', yaa. Tapi 'Bawa Perubahan'. Yuk, sama-sama memperbaiki diri dengan niat karena Allah. Semoga kita pantas untuk dipantaskan. Bisa jadi, karena kita yang memang belum pantas untuk ditemukan :)

"Dan, di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, diciptakan untukmu pasangan hidup dari jenismu sendiri supaya kamu mendapat ketenangan hati dan dijadikan-Nya kasih sayang di antara kamu. Sesungguhnya yang demikian menjadi tanda-tanda kebesaran-Nya bagi orang-orang yang berpikir,” (Q.S. Ar-Ruum: 21).

Semoga Allah memberkahimu di waktu bahagia dan memberkahimu di waktu susah, serta semoga Allah mempersatukan kalian berdua dalam kebaikan, Abil :)


Foto bersama pengantin subhanallah  ^^


"Selamat menempuh hidup baru, Abiiil.. Allahummaasholli 'alaa sayyidina Muhammad wa 'alaa ali sayyidina Muhammad"

Minggu, 22 Mei 2016

Harapan terakhir.

Ada dua lelaki yang memiliki waktu terbaik dalam hidupku. Dua lelaki yang  kuberikan tempat terbaik di dalam hati..

Lelaki pertama, yang sering kukisahkan tentangnya. Ayahku.

Lelaki kedua adalah lelaki yang kukisahkan untuk pertama kali. Ketika aku rindu padanya, rindu itu kusimpan dalam-dalam. Tak pernah kutuliskan..

Ia sudah menjadi sahabat baikku. lelaki kedua. Lelaki rendah hati yang selalu bersabar atasku.
Aku suka memeluknya tiba-tiba. Aku senang menjadi makmum shalatnya. Kalimatnya, selalu saja membuat perasaanku lebih baik. Ketika ayah sudah tidak disini, Ia pernah berkata akan datang sesering mungkin. Ia berkata bahwa aku adalah kesayangannya.

Sore itu, di kursi biru ruang keluarga, aku duduk bersamanya.
Lelaki itu mengatakan harapannya. Dia ingin berada disana, ketika aku berusia 20 tahun. Dia berandai-andai berada di pernikahanku yang ditargetkannya saat usiaku 20 tahun. Dia terus bercerita dengan senyum yang nyata, sedang aku  hanyut dalam perasaanya. Aku sendiri belum pernah membayangkan urusan  nikah-menikah saat itu. Umurku 12 tahun. Yang kurasakan, Aku takut melahirkan. Aku takut menikah dengan abang-abang.. hihi
Tapi karna harapan itu datang darinya, aku membayangkan bagaimana perasaanku.
Aku memikirkannya.
Tapi memikirkannya malah membuatku bahagia.
tak apa-apa bila aku menikah nanti, ayah tak ada.

Sampai kemudian aku tahu bahwa itu adalah harapan terakhirnya. Begitulah caranya pergi keesokan hari.
Tak ada pertanda. Ia hanya mengatakan harapannya kemarin. Tinggalah aku dan bekas harapannya yang belum lagi kering.
Sesak. Tapi yang bisa kulakukan hanya menangis. Menangis seakan hanya tangisanku yang dapat membuatnya kembali.  Dia menghembuskan nafas terakhirnya di atas kapal. Ia pergi ketika sedang bermimpi. Malam itu dikapal kata orang, dingin sekali.   Hatiku menjerit membayangkan orang tua itu, dia pasti kesakitan sekali.

Kakekku.

Sudah sembilan belas tahun umurku, cucunya ini. Meski terkadang sulit bagiku  membiasakan diri,
tak apa-apa bila aku menikah nanti, ayah tak ada. Tak apa-apa bila aku menikah nanti, kakek juga tak ada.
Kelak, Aku ingin menemui mereka dalam keadaan sebaik-baik cucu, sebaik-baik anak.. ^^

Senin, 16 Mei 2016

Perempuan, haruskah menutup diri?

Bersandar dari keputusan saya untuk menutup ig dari followers lawan jenis sejak beberapa waktu lalu, ada komentar-komentar yang langsung ditujukan pada saya. Dan hingga sekarang, rasanya saya masih ngga enak hati :')

1. "Ngapain main instagram kalau gitu?"
2. "Jauh-jauh dari ade ah, ade ngga mau main sama laki-laki lagi."
3. "Parah ade mah, ngeblock.."

Atas komentar yang pertama. Saya pikir-pikir, jadi selama ini, beberapa orang beranggapan bahwa upload foto di media sosial bisa merangkup menjadi media penarik perhatian lawan jenis. Jadi, ngapain main instagram kalau tidak ada followers lawan jenisnya.
Ah, mungkin kita sama-sama pernah terbesit pikiran semacam ini. Istighfar. Istighfar..
Banyakin beristighfar..
Sebab kita-saya-dan kamu- pun, pasti menginginkan; dia yang mendatangi orangtua kita nanti, bukan hanya karna foto-foto baik yang kita umbar di media sosial..

Atas komentar yang kedua. Saya, bukan tidak ingin lagi berinteraksi dengan lawan jenis. Di organisasi, organisasi dakwah yang saya ikuti sekalipun, masih membutuhkan koordinasi bersama laki-laki. Tapi masalah upload-meng-upload ini berbeda. Seringkali, ketika foto kegiatan atau foto bersama teman-teman yang saya upload mendapat notifikasi 'like' dari followers lawan jenis, jujur saya malu. Bukannya kenapa, bukannya apa-apa, dan entah kenapa. Maaf, Saya merasa malu. Terlebih jika foto tersebut dikomentari pujian, malu sekali rasanya..

Berlebihan? Saya tahu. Tapi memang,
Ada hal-hal yang tak memiliki alasan sebab memang begitulah adanya. Rasanya malu saja.
Mungkin kalau tidak ada notifikasi 'like' pada foto seperti foto profil line, bbm dan wa, saya tidak terlalu seperti ini..

Berlepas dari itu, saya senang menulis. Menulis apa saja. Sebagian besar tulisan yang saya tujukan bukan hanya untuk diri saya, tapi  juga bagi yang membacanya. Apalagi, jika yang membacanya adalah wanita-wanita juga, sepenanggungan rasa dengan saya. Maka menjadi hobi tersendiri. Berbagi kenangan dan kegiatan dengan teman-teman perempuan yang hanya bisa saya jumpai disana. Tidak ada lawan jenis pun di media tersebut, tak apa. Karna bukan itu intinya.

Membantu diri saya, pun beberapa orang lainnya, yang juga ingin menjaga hatinya, menundukkan pandangannya. Insyaa Allah..

Rabu, 13 April 2016

Saudaramu, Amanahmu.

Ada cerita tentang seorang pengurus rohis. Ia tengah mengajak temannya yang ketika itu baru saja putus dari sang pacar, untuk ikut menjadi pengurus rohis.

"Nggak ah,  aku berpacaran. Rohis kan tidak boleh pacaran." Jawab temannya itu sambil tersenyum penuh arti.

Deg.

Seketika pernyataan tersebut menohok jantungnya. Ia tahu jelas, temannya tersebut sudah tak lagi berpacaran. Ia teringat sesuatu. Baru-baru ini, ada salah satu pengurus rohis kelasnya yang berpacaran. Dan masih aktif dalam keanggotaan..

Allah.

Terang saja, ketika berita itu muncul,  ia merasakan kekecewaan amat mendalam.  Pada dirinya sendiri. Kenyataan bahwa ia gagal bertanggungjawab sebagai koordinator akhwat di kepengurusan rohisnya, semakin menyesakkan dadanya.

Namun Ia percaya,  ini  bukan sebuah sindiran. Ini adalah teguran dari Allah SWT, tentang amanahnya atas saudara-saudaranya juga..

                                ***

Anggota rohis, berpacaran?

Sebenarnya, rohis ataupun tidak, islam melarang pacaran. Sebab merupakan perbuatan zina. Bahkan larangan untuk mendekati perbuatan tersebut, pun didalam Al-Qur'an telah ada.

Kita bayangkan terlebih dahulu. Kita adalah pengurus rohis. Kita adalah orang-orang yang ingin mencitrakan islam. Tapi bagaimana dengan tubuh kita sendiri? Sebagai pengemban dakwah, kita melaksanakan maksiat. Sebagai pengemban dakwah, tapi kita melanggar perintah Allah. Bagaimana?

1. Ada yang menjawab,

"Sebagai Rohis, kita tidak boleh membiarkan mudharat terjadi dan berlepas diri darinya. Jadi tidak boleh langsung memecat mereka sebagai pengurus. Harapannya, pelan-pelan mereka akan berubah"

Ada benarnya. Dulu aku benar-benar membenarkannya. Tapi setelah bertanya pada ummi ngajiku beberapa waktu lalu, ternyata salah jika kita tidak mempunyai strategi khusus dan terus membiarkannya sebagai pengurus.

Bukankah kita agen perubahan?

Rohis harus tegas. Misalnya, Mas'ul / mas'ulah atau divisi tertentu memberi sang pelaku treatment. Mas'ulah memegang akhwatnya, mas'ul ikhwannya. Buat tenggat waktu, disini pengurus pun harus komit dalam mengajaknya untuk kembali mengingat aturan Allah dan menerangkan dosa serta bahaya berpacaran dalam islam. Jika sudah mencapai batas waktu yang ditentukan, lakukan evaluasi. Bila mereka tidak meneruskan perbuatan tersebut, bersyukurlah sebab Allah telah menggerakkan hati. Mereka pun masih dapat aktif dalam kepengurusan.

Namun bila mereka masih berpacaran, nah artinya rohis tak dapat lagi mengajak mereka, bukan? Rohis atau tidak, mereka tetap berpacaran.

Jika tetap kita biarkan mereka dalam tubuh kepengurusan,
Berrti kita menginginkan dua orang yang berpacaran tetap terisolasi, tetap aman. Namun Ingatlah, bisa jadi kita tidak akan mendapatkan kepercayaan teman-teman yang lain. Sebab sudah memiliki persepsi miring.

Sederhanaya begini. Akan ada persepsi-persepsi bernada menyindir seperti kisah yang di ceritakan tadi; Bagaimana rohis mampu membina mahasiswa yang ada di kampus sementara internalnya saja tidak dapat mereka urus?

Rohis harus tegas. Bukan berarti, ketegasan  membuat mudharat yang terjadi terlantar begitu saja. Tidak. Tapi di bina, dengan cara apa? Rancang program-program dari tiap divisi seperti dibuat kajian, kultum, grup mentoring dll. Mereka yang berpacaran, masih boleh terlibat dan sangat dianjurkan aktif di dalamnya.
Namun tetap, status mereka sebagai pengurus di off- kan. Karna berbahaya, akan menjadi legitimasi bagi yang lain.

2. Ada pula yang menjawab,

"Kita do'akan saja semoga mereka cepat menikah, jangan kita keluarkan"

Mau berdo'a sampai kapan? Memang sudah pasti, mereka saling berjodoh? Ini bukan solusi. Ini selemah-lemahnya semangat juang.. :')
Mari kita mulai memikirkan efek rohis di mata orang-orang sekitar.

Lalu, Bagaimana agar kejadian serupa tidak terjadi lagi di tubuh rohis?

Kriteria pengurus harus ada kejelasan.

Artinya, rohis adalah contoh. Calon pengurus harus punya syarat lebih. Syarat tersebut berkenaan dengan kewajiban dasar sebagai muslim. Misalnya, tidak berpacaran, berhijab, dsb. Karna khawatir, gara-gara kasus ini, apapun yang dikatakan rohis, tidak ada giginya sama sekali. Kita kehilangan kepercayaan dari orang-orang yang ingin kita dakwahi.

Tentu, Mereka yang ingin masuk rohis adalah orang - orang yang ingin berubah menjadi baik. Namun belum tentu telah taat sepenuhnya. Sebab kita sama-sama masih belajar. Maka disinilah, rohis harus mampu memfasilitasinya.
Mereka tidak mampu mengaji? Tak apa. Kita bikin grup tahsin. Kita berikan materi-materi dasar seputar islam tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Intinya, Kuatkan internal :')

Jika rohis tidak ada bedanya dengan kepengurusan lain, apa kita mau disebut kaum munafik? :') Naudzubillahhimindzalik..
Kita mengemukakan "islam melarang perbuatan zina", namun kita membiarkan kemaksiatan itu ada.

Jangan lupa. Saudaramu adalah amanahmu..

Ini tugasmu,

diriku.

Sabtu, 19 Desember 2015

Menemukan yang tepat.

Kata orang,

Kasih sayang adalah perihal yang tak pernah berakhir. Ada kalanya mereka berpindah dan hadir bersama orang yang lebih tepat.

Aku tidak sependapat.

Tepat kelebihannya. Tepat sempurnanya. Sampai letih pun kau berlari mencari dan keringatmu kering karenanya, ia takkpan pernah kau dapatkan. Takkan pernah.

Pernyataan itu, seringkali dimarakkan ketika kau merasa jenuh.
Semacam pembenaran ketika kelak memutuskan untuk berpisah karena ternyata ia bukan orang yang tepat.



Sebab bukan sesederhana itu.
Kasih sayang yang telah Allah tumbuh-letakkan pada sudut terbaik sisimu, tak pantas untuk disamaratakan dengan keegoisanmu yang merasa perlu berpura-pura lupa.

Karena untuk menemukan, 
Kau tak perlu membanding-bandingkan hingga merasa ia pantas dan kau puas.

Mengukur keimanan dan kebaikan seseorang, bukan keahlianmu. Kau takkan pernah merasa puas.

Kau hanya perlu merasa cukup.
Merasa cukup dengan cara sederhana.

Menggantungkan Pada Yang Seharusnya,
Allah Tabaraka Wa Ta’ala.

Kau tahu bahwa Allah Mengerti, ketika kau sendiripun tak kuasa berkata.  
Agar terus Allah Perbaiki dan kau pun terus merasa perlu memperbaiki diri sendiri.

Dirimu, dan segala ketidakmampuanmu menentukan sikap ketika semesta pun turut berbicara.

Hingga pada akhirnya, kaupun siap pada waktu yang tepat. Entah itu waktu yang tepat untuk saling melengkapi, 
ataupun waktu yang tepat untuk berhenti dan saling mengikhlaskan.


Ya. Ikhlas..


Meski terasa sulit menancapkan dalam hati getirnya kata yang disesakkan cinta Allah ini,

kurasa ikhlas, adalah satu-satunya cara menyadari
seberapa besar iman itu sendiri..^^



Berdoalah. Karena hanya doa, yang mampu menggerakkan takdir-Nya.



Sabtu, 12 September 2015

Mereka menyebutnya, Endah Alhur.

Cerita ini, ketika saya masih semester dua.
Sekarang sudah tingkat dua, sebentar lagi tingkat tiga, sebentar lagi wisuda, sebentar lagi menikah dan punya tiga anak lucu-lucu.

Oke. Lupakan.


Jadi, saat itu seusai praktikum, saya menarik langkah berbalik ke arah Masjid Alhurriyah IPB. Saya teringat acara yang diadakan Alhur. Sesampainya disana, ternyata saya salah mencerna informasi, saya memutuskan balik lagi ke asrama setelah shalat maghrib di Alhur.

Adzan berkumandang. Saya meletakkan barang bawaan dan pergi berwudhu.
Sesaat setelah keluar dari tempat wudhu, saya berpapasan dengan sosok yang tak asing lagi bagi mahasiswa IPB.
Lengkap dengan penampilan khasnya, Gamis dan jilbab syar’i.
Namanya Endah. Mereka menyebutnya "Endah Alhur" karena ia seringkali berada di Masjid Alhurriyah IPB.


Sebenarnya tak sopan jika kita hanya menyebutnya Endah Alhur. Sebab barangkali, beliau sudah berbeda jauh soal umur.

Masih teringat beberapa waktu lalu ketika saya hampir saja diserempet motor, beliau berteriak menyadarkan saya dan mengatakan hal yang kurang berkenan.  Dan sekarang, saya pun berpapasan dengannya. Lagi.
Disini, lewat takdir ini,
yang kemudian merubah segala persepsi saya tentangnya..

“Eh, si merah..” tegurnya sambil menunjuk jilbab saya yang berwarna merah. Dada saya berdegup kencang. Kaget, Saya pun menatapnya, tanpa berani menyunggingkan senyuman.
Sejenak ia berlalu, barulah saya memberanikan diri untuk menoleh. Saya melihatnya dari tangga yang biasanya dilalui para akhwat untuk shalat di lantai 3. Beliau  hendak masuk ke tempat berwudhu wanita.

Tepat di depan pintu tempat berwudhu, ada kejadian salim-salim-an yang tak pernah saya sangka.
Jujur saja, Saat itu-kejadian seperti ini-masih sangat asing bagi saya yang sebelumnya masih terbilang jarang melangkahkan kaki ke masjid Alhur.
Beberapa orang menyalami dan mencium tangan beliau. Bahkan, seorang perempuan berkerudung lebar datang memeluknya. Memperlakukannya seperti saudaranya sendiri.
Ah, rasanya, saya pun merasakan kehangatan yang beliau rasakan setiap diperlakukan baik seperti ini.


Sementara beberapa orang yang berlalu lalang bereaksi seperti saya, melihat dan seakan tak percaya.
 Tak bisa dipungkiri rasa penasaran saya. Apa benar ini beliau? Endah “Alhur” yang seringkali di jadikan bahan tertawaan, ditakuti karena tatapan, tindakan, dan lantang suaranya. Saya tak melihat satupun  cela yang tampak pas melekat padanya di jarak sedekat ini.

Bagi saya,
melihat secara dekat lebih baik dibandingkan mendengar lebih banyak. Tapi mendengar lebih banyak, akan lebih baik jika kemudian  meluruskan selurus-lurusnya ataupun tak mempercayai sama sekali.
Bukankah setiap agama mengajarkan untuk saling mengingatkan dalam kebaikan?


Saya jadi teringat masa semester satu, kalau tidak salah, Ketika itu, saya bukanlah apa yang saya rasakan sekarang. keinginan berhijrah belum membatin, keinginan taat sebatas suara nyaring,  Teman-teman membincangkan Endah Alhur dan menjadikannya bahan tertawaan, saya pun ikut tertawa tanpa mengajak menyudahinya. Allah. Betapa hinanya, betapa hinanya saya saat itu..

Barakallahu, untuk beliau,
di Pengadilan Allah kelak, entah berapa banyak catatan amal baik yang beliau sendiri pun tak merasa pernah melakukanya.  Sebab amalan tersebut datang dari mereka sendiri, orang-orang yang telah mencemoohnya..

Saya kembali menaiki tangga dengan perasaan tak menentu. Terbesit niatan untuk sekedar berbagi sapa dengannya.
Ketika sampai di jamaah perempuan, ternyata saya masbuk. Saya bergegas mengambil mukena dan sengaja mengambil tempat shalat di pinggir paling kanan, sementara beliau mengambil deretan shaf pinggir paling kiri.

Saya kembali mencari sosoknya setelah shalat..

“itu suara kipas angin mengganggu orang shalat!” hingga kemudian terdengarlah suara khasnya, yang lantang dan tak pernah malu-malu. Seperti biasanya..

Saya melihatnya lagi.

Endah Alhur. 
Wanita yang tak jarang di tolak penduduk dunia, sebab saya rasa, ia lebih pantas diterima penduduk langit.
Mungkin saja,
namanya telah harum di sebut-sebut para malaikat, Sebuah istana surga lengkap dengan pemuda yang selalu muda untuknya, telah tercatat.
Allahumma Aamiin.

Saya bergegas merapikan mukena dan tanpa ragu mendekati pemilik suara itu..
Hingga  tepat berhadapan, ia melihat saya. Segera saya mengulurkan tangan, lalu mencium tangannya.
Allah. Saya hanya mampu berteriak dalam hati, menyesali tawa yang pernah tertuju padanya. Tertekad di hati, memahaminya dari segala sisi..


"oh.. kirain si novia tadi" selorohnya sambil melihat ke sekitar.
"bukan bu." saya tersenyum kecil. 

"eh bagi 5000 dong. 5000.." ujarnya tiba-tiba berbisik. Saya hampir saja tertawa. Bukan, bukan karna ia tak sesuai dengan yang  saya bayangkan. Tapi memang inilah dirinya..
Saya jadi teringat ketika SD, saya palakin temen supaya kelihatan lebih akrab.. :))

Jika saya mengingat-ngingat kembali kejadian saya hampir diserempet motor, bisa jadi tindakannya itu adalah caranya untuk memberitahu saya ada motor yang melaju dan hampir menyerempet saya..
Who knows? ^^

Tulisan ini untuk mengingatkan diri.

Endah.
Alhur.
Dua kata sebagai panggilan.
Perempuan yang juga Allah cipta.
Kita dan beliau sama. Sama-sama celupan warna Allah. Maka pantaskah, menghina apa yang Allah karya? Apakah kita punya jaminan, bahwa kelak di Pengadilan Allah, kita dalam keadaan baik dan tak terhina?

Tak pernah berbaju kehabisan bahan^^ Gamis lagi, gamis terus. Tak pernah ia tinggalkan.
Maka pantaskah, mencemooh perintah Allah dan sunnah rasul yang ia teladankan?

Anak muda yang bukan mahrom terlihat berduan, dengan lantang ditegurnya. Dengan berani, dapat dipisahkannya. Dengan caranya..

Ya.
Caranya yang belum diterima orang kebanyakan. Sebab dirasa tak waras. Sebab terlalu lantang, terlalu berani. Dia yang terlalu berani menentang.
Sementara kita, yang terlalu merasa benar,
sulitkah mengambil pelajaran?
ataukah budaya mencemooh, memang sudah begitu mengudara diantara kita?



Jawabannya, ada pada kita.
'



Foto saya ambil dari she-yummie.blogspot.com. 

Sabtu, 29 Agustus 2015

Emansipasi wanita? Bukan saya.

"Kamu, kuliah tinggi-tinggi mau jadi apa?"

"Mau jadi pembangun bangsa.." katanya pelan.

"Oh, apa itu jelasnya? Pejabat? Waah bagus, apalagi kalau gajimu bisa melebihi gaji suamimu. Ngga bakal deh kamu diatur-atur!" 

"Bukan." Ia tersenyum
"Maksud saya, Ibu rumah tangga. Kalau ada pekerjaan sampingan, ya itu harus melalui persetujuan suami saya. Selagi tidak mengganggu pekerjaan utama saya. Ibu rumah tangga."
"Loh, kok?"
"Iya. Menjadi madrasah utama bagi anak-anak saya. Bukankah berarti saya sedang membangun bangsa?"
"Tapi, kan.. ngapain kamu sekolah tinggi-tinggi kalau ujung-ujungnya di dapur?"
"Justru itu. Kalau saya ngga sekolah tinggi-tinggi, gimana bisa saya membangun bangsa? Jadi perguruan tinggi adalah salah satu cara saya mencari pengalaman hidup. Bagian mana yang bisa saya ambil dan saya terapkan ke anak cucu saya kelak. Tidak ada emansipasi wanita dalam kamus saya." tandasnya mantap

"lalu, sebenarnya apa cita-citamu?"


ia berpikir sebentar. 

"Menjadi penulis! Tanpa fitnah, lebih banyak menghabiskan waktu di dalam rumah." tutupnya penuh semangat. 


Sungguh kamu tidak meninggalkan sesuatu karena takwamu kepada Allah azza wajalla, melainkan Allah pasti akan memberimu ganti yang lebih baik darinya” (HR. Ahmad, dan di-shahih-kan oleh Albani).