Minggu, 05 Juli 2015
Sabtu, 16 Mei 2015
Dalam dekapan sajadah.
Senin, 11 Mei 2015
Malarindu.
Tubuh ini sedang merindu.
Rindunya, rindu sekali.
Sesaknya, sesak sekali.
Bagaimana mungkin, ada rindu yang begini, Allah.
Rindu. Rindu Engkau.
Pemilik rindunya segala rindu.
Pengatur sang pecinta bertemu
Rindu Engkau. Allah.
Jumat, 20 Maret 2015
Berbagilah.
Seorang kakek dengan api semangatnya yang masih merah menyala. Bertelanjang kaki, ia tantang matahari.
Tapi matahari tak pernah menang.
Diatas aspal. Matahari kalah,
pada seorang kakek dengan becaknya.
Suatu waktu, saya melihat seorang kakek tengah terengah-engah mendorong becaknya di bawah terik matahari. Tangan menahan beban becak. Kaki menahan panasnya aspal jalanan.
Pemandangan yang seringkali terabaikan, pun seringkali menghentakkan hati.
Selain kakek pembawa becak, tak jarang pula saya melihat kakek yang selalu berada di koridor media centre. Beralaskan lantai, ia duduk untuk menunggu sekotak tissue yang sedari pagi ia jualkan agar laku hari ini, setidaknya terjual pada seorang mahasiswa. Begitu setiap hari.
Bila melihat mereka. Bukan lagi keinginan Dan kebutuhan diri yang terbesit. Semuanya hilang. Rasanya, apa yang saya punya hari ini sudah lebih dari cukup. Uang saku bukan lagi menjadi pertimbangan untuk membeli satu dari dua barang. Semuanya terlupakan, yang tertinggal hanyalah keinginan memberikan sebagian. Untuk seorang kakek, agar tak lagi menunggu disini. Makanlah dengan baik tanpa memikirkan apakah besok masih bisa makan lagi. Beristirahatlah.
Memang, untuk urusan dunia, uang tak pernah ada cukupnya. Seberapa besar uang yang kita pergunakan untuk memuaskan hawa nafsu, pada akhirnya kita takkan pernah mendapatkan kenikmatan hakiki. Namun bersedekah dengan keihklasan penuh, memuaskan jiwa yang pada dasarnya adalah orang-orang baik. Bukankah, begitu? :)
Berbagilah, Mahasiswa.
Carilah alasan untuk membeli daganganya meski tidak membutuhkannya. Sebab sesungguhnya mereka sedang menghindari diri dari meminta-minta.
Meski sedikit, namun meringankan bebannya. Kita tak pernah tahu, barangkali apa yang kita berikan hari ini adalah satu-satunya rezeki yang bisa ia gunakan untuk membeli sepiring nasi.
Pedulilah, Mahasiswa.
Jangan merasa sudah menjadi 'Maha' karena menempati strata yang lebih baik di masyarakat.
Kita-lah harapan mereka di saat para petinggi berleha-leha dengan hasil keringat rakyat. Kita-lah harapan mereka di saat para petinggi tak lagi pro terhadap suara rakyat.
Sebab kita bukan tak merasa. Harga pangan kini tak stabil.
Masyarakat kecil semakin mengecil.
Senin, 23 Februari 2015
Tentang Mimpi
"Aku percaya Tuhan menempatkan segala sesuatu sesuai takaran. Takaran yang adil tanpa melihat kasta. Tak ada pembeda. Sebab yang mempunyai derajat paling tinggi adalah yang paling senang beribadah dan tak berhenti berusaha, peluhnya sampai ke pelupuk mata, namun tak berhenti meski mengaburkan mata," - De.
|
Minggu, 22 Februari 2015
Ada namamu, di cita-citaku
Terkadang, aku terlalu sibuk beraktifitas. Namun untuk Allah, hanya secuil waktu yang kuberikan untuk-Nya.
Entah apa yang akan ku katakan jika sedetik kemudian ia memanggilku..
Terkadang, aku pun terlalu sibuk memikirkan hal-hal yang tak pasti. Ataupun hal yang tak halal bagiku. Sementara, ada hal yang pasti terjadi namun seringkali terabaikan seolah-olah ia datang hanya ketika tua nanti.
Padahal tak ada makhluk bernyawa yang mengetahui.
Dialah, yang disebut mati.
Meski begitu. Setiap makhluk bernyawa yang akan merasakan mati pasti mempunyai cita-cita menggebu didalam diri. Tak sedikit pula yang berharap dapat menggapainya sebelum malaikat maut menghampiri.
Sama halnya aku.
Sebelum waktu berhenti untukku, Aku Ingin menjadi wanita yang lebih baik lagi. Jalan berkerikil menuju gerbang cita-citaku dapat ku lewati, bisikan-bisikan setan yang akan membelokkan niatku dapat kuperangi.
Aku ingin istiqamah menggapai mereka dijalanku, di tanganku sendiri.
Adalah cita-cita dan kebahagiaan, mendaftarkan ibu pergi haji^^
Mengabarkan ibu bahwa anaknya telah mendaftarkan namanya sebagai calon jemaah haji. Cita-cita yang merangkul nama ibu di dalamnya, meggeser cita-citaku menjadi psikologi. Cita-citaku saat ini dan kurasa takkan berubah. Malah bertambah. Hm, menjadi perangkai puisi dan istri yang shalihah, barangkali? :p
Rabu, 04 Februari 2015
Memperingati Hari Kanker Sedunia
Untukmu, orang-orang kuat sedunia,
yang kaya akan rasa syukur..
Pagi ini masih bisa bernapas meski menggunakan alat bantu, kau tetap percaya Tuhan itu baik.
Bahagiamu sederhana saja. Melewati setengah hari tanpa darah yang tergenang di rongga hidungmu.
Sesederhana itu.
Mungkin terkadang, kau pun sedih sekaligus terheran-heran mengapa banyak orang yang ingin mati bunuh diri hari ini hanya karena masalah yang tak dapat ia atasi. Sementara dirimu-untuk bisa hidup esok hari, harus menjalani radiasi kemoterapi.
Memang,
Penyakit menjadikan ragamu sakit. Tetapi jiwamu, kau rakit.
Maka untukmu,
La Tahzan. Janganlah bersedih.
Semesta bersama kepedihanmu.
..dan untuk kita,
Janganlah merasa diri lebih baik.
Raga yang sehat bukan berarti jiwa tak sekarat :)